"Damai Menyejukkan" Official Blog of Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Nurussalam

Video of the Day

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

April 11, 2019

0

Al hikam: Sifat Basyariyah



اخرج  من اوصاف بشريتك عن كل وصف مناقض لعبود يتك لتكون لنداء الحق مجيبا ومن حضرته  قريبا
“Berjuanglah untuk keluar dari sifat basyariah yang bisa menjauhkan mu dari ibadah. Supaya panggilan Allah kamu penuhi dan padaNya kamu dekat.”
Ibnu Athoillah  memberi nasehat kepada kita untuk berusaha keluar dari sifat basyariyah kita. Sifat basyariyah adalah sifat dimana adanya  keinginan untuk memenuhi kebutuhan ragawi. Pada dasarnya sifat basyariyah (Manusia) yang berhubungan dengan Agama ada 2:
1.      Sifat yang berhubungan dengan dhohir (lahir) yaitu “Amal perbuatan”, hal ini dibagi 2:
a.       Sifat yang sesuai dengan harapan yakni “Taat”
b.      Sifat yang tidak sesuai “Maksiat”
2.      Sifat yang berhubungan dengan batin yaitu “Keyakinan” dibagi 2 lagi:
a.       Sifat yang sesuai dengan hakikat yakni “Iman dan Ilmu”
b.      Sifat yang tidak sesuai dengan hakikat yakni “Munafik dan Bodoh”
Sifat yang berhubungan dengan dhohir ini diistilahkan sebagai “Fiqih”, sedangkan sifat yang berhubungan dengan batin diistilahkan sebagai “Tasawuf” dan itu semua sifat yang dimiliki oleh manusia. Dan dapat dipastikan dhohir itu mengikuti batin karena disini diibaratkan kalau hati itu adalah raja sedangkan raga itu adala prajurit. Sesuai hadis Nabi Muhammad SAW yang bersabda :
أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ
Supaya kita bisa dekat dengan Allah dan dapat memenuhi panggilannya, menurut Ibnu Ato’illah kita harus berjuang untuk keluar dari sifat basyariyah yang buruk, baik itu yang bersifat dhohir semisal : ghibah, namimah, membunuh, menyiksa. Ataupun yang bersifat batin seperti : sombong, ujub, riya’, dengki, hasud, cinta harta dan kedudukan. Sifat-sifat tersebut mampu menghalangi kita menuju sifat ubudiyah. Tidak hanya berupa ibadah saja, sifat ubudiyah bisa diartikan segala aktivitas yang mengarah pada kehambaan.
Ketika seorang hamba sudah mampu menjauhi sifat-sifat basyariyah yang buruk, maka perjalanannya menuju sifat ubudiyah tidak ada penghalangya. Sehingga terbentuklah kedekatan antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Ketika kedekatan sudah terwujud, maka untuk menembus satir ijabah sebuah permintaan tidak akan susah terealisasi.
                               



Mei 16, 2018

0

Menilik Keistimewaan Ramadhan dibanding Bulan Lainnya


Source: google.com
Ramadhan secara bahasa merupakan bentuk masdhar dari kata رمض yang artinya panas (red: membakar dosa). Menurut Abdullah alfakihy kata  Ramadhan merupakan isim ghairu munshorif  (red : isim yang tidak bisa kemasukan tanwin dan tanda jernya menjadi fathah jika isim tersebut dijerkan) sebabnya karena ramdhan merupakan isim ‘alam (isim yang berarti nama) dan pada akhir ada 2 tambahan alif dan nun[1].
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, penuh ampunan, penuh dengan pahala dan bulan yang penuh dengan kemuliaan. Pada bulan Ramadhan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup syaitan-syaithan dibelenggu. Di bulan Ramadhan juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari  malam seribu bulan yang kerap disebut lailatul qadr.
Allah sangat memuliakan bulan ini karena juga merupakan waktu dimana kitab-kitab dan suhuf (wahyu yang turun tetapi tidak dibukukan) diturunkan. Seperti suhufnya nabi Ibrahim yang turun pada malam pertama bulan Ramadhan, kitab Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa As pada malam ke-6 bulan Ramadhan, kemudian diturunkanya suhufnya nabi Ibrahim 700 tahun kemudian, kitab Zabur yang diturunkan kepada nabi Daud As pada malam ke-12 bulan Ramdhan setelah 500 tahun diturunkanya kitab Taurat, kitab Injil yang diturunkan kepada nabi Isa As pada hari ke-18 bulan Ramdhan setelah 1100 tahun diturunkannya kitab Zabur , kitab Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW pada malam ke-27 bulan Ramadhan setelah 620 tahun diturunkannya kitab Injil [2].
Nabi Muhammad juga sangat memuliakan bulan Ramadhan, Ibnu Abbas pernah meriwayatkan suatu hadits yang berbunyi :
لو تعلم امّتي ما في رمضان لتمنواان تكون السنة كلّها رمضان

Artinya ; “Andaikan umatku mengetahui apa yang terkadung dalam bulan Ramadhan niscaya mengharapkan setiap tahun agar selalu menjadi Ramadhan”
Pada bulan Ramadhan, terdapat kebaikan yang terkumpul yang membuatnya berbeda dengan bulan- bulan lainnya seperti dikabulkannya do’a, dosa- dosa diampuni bahkan pintu surga merindukan orang yang menjalankan puasa wajib pada bulan mulia tersebut.
Terdapat 3 macam tingkatan orang yang berpuasa yaitu[3] :
a.       Puasa awam (puasanya orang biasa) yaitu puasa yang hanya menahan lapar, minum dan farji dari perkara yang mendatangkan syahwat.
b.      Puasa khas (puasanya orang- orang shalih) yaitu puasa yang tidak hanya menahan segala hal pada tingkatan pertama, akan tetapi juga menahan pendengaran dari omongan yang jelek, menahan lisan dari berbicara kotor, menahan penglihatan yang mengundang syahwat, menahan tangan dan kaki agar terhindar dari perilaku yang mendatangkan kejelekan.
c.       Puasa khasul khawas (para Nabi) yaitu puasa hati dari kesusahan dunia, terlalu memikirkan perkara duniawi, dan hanya memikirkan Allah dalam setiap kegiatannya.
Pada bulan Ramadhan, segala hal dihitung dengan bobot nilai ibadah. Bahkan menghadiri majelis ilmu dalam bulan Ramadhan pahalanya sangatlah banyak yakni ganjaran setiap langkahnya dihitung sebagai ibadah selama setahun. Sesuai dengan hadits nabi berikut ini:
عن انس بن مالك رضى الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال من  حضر مجلس العلم في رمضان كتب الله بكل قدم عبادة سنة....,..  ومن قضى حاجة أخيه المسلم في رمضان قضى الله تعالى له ألف حاجة يوم القيامة.
Artinya : “ Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, Nabi Muhammad telah bersabda : “Barang siapa yang menghadiri majlis ilmu (mencari ilmu) maka bagi tiap-tiap langkahnya dihitung sebagai ibadah setahun,…dan barang siapa yang mengabulkan hajatnya saudaranya sesama muslim didalam bulan Ramadhan maka Allah mengabulkan baginya (read: orang tersebut)  seribu hajat di hari kiamat ” wallahu a’lam[4].
Oleh karena itu, hendaknya kita mampu memuliakan dan menyambut bulan Ramadhan ini dengan penuh suka cita sebagaimana ia dimuliakan oleh Allah dan Rasulnya. Terlebih lagi ganjaran yang berlipat ganda serta keutamaan lainnya yang tidak akan ditemukan pada bulan selain Ramadhan membuat kita seharusnya mampu memanfaatkan momen ini sebagai ajang bermuhasabah diri dan semakin mendekat kepada Allah dan memupuk keimanan agar senantiasa bertambah serta agar kita dapat mendapatkan kemulian dan keridhoan dari Allah SWT, Amiin.
Semangat nderes, semangat ngaji semangat berbuat baik dan semangat dalam menjalankan puasa pada Ramadhan ini. Semoga bermanfaat !!! (MA/ Nailil Fithriyyah)



[1] Kitab Safinatun Naja hal. 8 cetakan Darul ‘Ilm
Kitab Durrotin Nashihin hal 8 cetakan Haramain [2]
[3] Kitab Durrotin Nashihin hal 12 cetakan Haramain dan Kitab Kasyifatun Naja hal. 8 cetakan Darul ‘Ilm
[4] Kitab Durrotin Nashihin hal 9 cetakan Haramain



Maret 25, 2018

2

Bersaing di Era Digital, Siberkreasi dan AIS Jogja Jalin Kerjasama Gelar Literasi Digital



Sumber: Doc. pribadi


     Derasnya arus informasi yang ada saat ini menuntut konsumen teknologi untuk jeli memilah dan memilih konten yang tersebar dalam dunia maya. Tak dapat dipungkiri, beragam kasus hoax dan konten negatif tersebar dan diketahui oleh masyarakat umum. Sebut saja kasus kelompok Saracen yang sempat marak beberapa waktu yang lalu dan menjadi kasus nasional dan menurunkan kepercayaan masyarakat atas kredibilitas berita yang bersumber dari media sosial.
        Media Sosial bukanlah ranah baru dalam dunia masyarakat. Akan tetapi kecepatan teknologi yang semakin berkembang pesat membuat masyarakat agaknya terlihat kewalahan mengantisipasi derasnya informasi yang didapat. Inilah yang kemudian memunculkan fenomena ‘latah’ dalam media sosial yang mana para pengguna media sosial tidak lagi mampu menyaring konten akan tetapi justru terus menerus dihujani oleh berbagai isi media sosial yang beragam dan membuat sesak. Oleh karena itu, penting adanya kesadaran dari berbagai individu untuk membentuk pribadi dengan menjadi netizen yang smart dan dapat memfilter informasi yang secara intens merayap melalui media sosial bahkan hingga pada tahap pembuatan konten sendiri, bukan hanya sebagai konsumen media sosial.
        AISJogja dan Siberkreasi yang fokus pada menyebarkan hal- hal positif dalam sosial media pada 24 Maret 2018 lalu menyelenggarakan festival literasi media yang berlokasi di PP Assalafiyah II Yogyakarta dan dihadiri oleh ratusan santri dari tuan rumah dan puluhan tamu undangan turut memeriahkan acara Literasi Digital ini termasuk perwakilan dari santri Nurussalam PP Al Munawwir yang berjumlah 12 orang terdiri dari putra dan putri.
Sumber : Doc. pribadi
        Acara literasi digital ini digelar sejak pukul 8.30 hingga 16.00 dengan pembahasan yang intinya mengajak para santri memanfaatkan media sosial sebaik mungkin terutama sebagai media dakwah. Terlebih saat ini media sosial telah dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat.
Pemateri workshop yang dihadirkan kali ini cukup memiliki kredibilitas yang mumpuni di bidang media sosial yakni Habibah Hermanadi (Research Associate CfDS) yang menyampaikan materi di kelas vlogging, Masgustian (Graphic Designer CfDS) mengisi workshop tentang infografis serta narasumber lainnya yakni Aro Muhammad (@alasantri), Anifa Hambali (@santriputrihits), dan Moh Mufid Muwaffaq (IMNU).
Acara yang juga didukung oleh Kominfo, ICT Watch, CFDS, serta FJD ini diharapkan mampu menjadi salah satu cara memberikan edukasi para kalangan santri dalam hal teknologi termasuk mengenai cara berkomunikasi yang baik dan benar, tidak mudah termakan berita hoax, serta pemanfaatan teknologi secara maksimal dalam ranah positif. (Nailil Fithriyyah)


Januari 24, 2018

0

MEDIA SOSIAL SEBAGAI GURU MASA KINI (Narasi Ekstremis Vs Kontra Narasi Ekstremis Beserta Pengaruhnya Terhadap Generasi Millennial)


Source: http://bit.ly/2DDOQwW

Haidar Bagir dalam bukunya menyatakan pada saat ini umat manusia telah hidup “pada zaman kacau”, zaman dimana arus informasi aksesibel, tersebar luas tanpa batas, namun sikap masyarakat sebagai konsumen media berperilaku tidak kritis.[1] Segala informasi yang tidak dapat di kebenarannya  dengan mudah digandakan dan disebarluaskan ke publik tanpa melakukan crosscheck. Kadang melalui media sosial seperti Facebook, Website/blog, WhatsApp broadcast, akun Twitter dan sebagainya. Jika informasi-informasi yang demikian  memiliki konten positif dalam artian berguna untuk semua orang mengajak kepada kebaikan, kemandirian, persatuan, gotong royong, tentunya akan memberikan dampak positif karena memang media sosial itu sendiri ikut serta dalam membentuk cara berpikir dan cara hidup seseorang selaku penggunanya.

Namun yang dikhawatirkan adalah sebaliknya, pengguna media sosial menyebarkan informasi-informasi  yang sensasional dan tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya, mengajak kepada permusuhan, men-judge, membully, menghina, mencaci-maki, dan mengafirkan antara satu kelompok agama dengan agama tertentu, antara satu kelompok politik dengan kelompok politik tertentu, antara satu etnis dengan etnis tertentu yang kemudian informasi-informasi tersebut langsung diserapnya, diyakini kebenarannya, dijadikan sebagai referensi, bahkan dijadikan sebagai guru dalam keilmuannya.  Kondisi demikian jika terus dipertahankan  dikhawatirkan suatu saat keadaan bisa terlepas di luar kendali.

Dari konflik terkecil tak jarang menyeret kepada konflik yang lebih besar, bahkan dibalik konflik kemasyarakatan tersebut tak menutup kemungkinan adanya pihak  ketiga atau orang yang memiliki kepentingan menggunakan kesempatan tersebut  demi mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompoknya, termasuk pemerintahan-pemerintahan autoritarian, kelompok-kelompok militer dalam pemerintahan, kelompok-kelompok politik, maupun kelompok radikal terorganisasi baik di dalam maupun di luar negeri.[2] Dengan adanya kasus-kasus bom bunuh diri di sejumlah tempat yang strategis seperti pasar, mall, tempat ibadah, dan pusat keramaian lainnya di seluruh Indonesia merupakan contoh manifestasi kelompok radikal dalam mengekspresikan jati dirinya, bahkan bagi mereka memerangi sebagian orang atau kelompok yang pemahamannya berbeda dianggap sebagai perbuatan mulia atau jihad fi sabilillah. pengertian jihad tidak semestinya dipahami secara sempit, akan tetapi harus dimaknai secara luas sesuai dengan konteksnya. Jihad tidak melulu identik  dengan perang atau memerangi orang lain yang tidak sealiran dengan kelompoknya, dalam konteks tertentu jihad juga bisa dimaknai sebagai perjuangan menegakan kebenaran melalui ajaran-ajaran Islam yang rahmatan lil-‘alamin dan penuh perdamaian[3]. Jika ditelisik lebih mendalam dengan alasan apapun bahkan atas nama agama sekalipun perbuatan radikal demikian sangat tidak dibenarkan, karena pada dasarnya keseluruhan agama baik Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, dan sebagainya, dari segi konsepsi kesemuanya mengacu pada titik dan cita-cita yang sama yakni perdamaian dan kerukunan.[4]


Source: http://bit.ly/2GgLMFu
Dengan segala kecanggihan alat komunikasi dan semakin pesatnya pengguna internet dikalangan generasi muda saat,ini, kondisi tersebut tak jarang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya yang ekstrem (pemikiran yang melewati batas-batas rasional). kata ekstrem menurut istilah idiologi diartikan sebagai sesuatu yang berlebihan dalam berpolitik, beragama, bermadzhab yang dapat membahayakan individu maupun kelompok lain. Bentuk-bentuk  manifestasi ekstrem biasanya terlihat pada sikap tidak toleran terhadap norma-norma yang diterima dalam masyarakat termasuk pada konstitusi, UUD dan lain-lain, cenderung memilih cara yang ekstreme dalam menyelesaikan masalah, dan menolak hak asasi manusia (HAM) demi memaksakan tujuan.[5] Aktivis media sosial yang tidak kritis, berpengetahuan dangkal, dalam hal ini menjadi sasaran empuk kelompok radikal dalam menyebarkan pemikiran-pemikirannya yang ekstrem, karena memang Internet dan jejaring media sosial merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap anak muda untuk tertarik dengan perlakuan ekstremisme.

Dalam media sosial pemahaman ekstrem ini sangat banyak ditemukan, biasanya tersaji dalam bentuk narasi-narasi maupun propaganda-propaganda lainnya. Narasi ekstremis sebagaimana dinyatakan oleh Irfan Abu Bakar diartikan  sebagai rangkaian cerita yang dibuat sedemikian rupa, mengacu kepada alur cerita yang dikenal umum, untuk memenuhi hasrat mengatasi konflik dengan cara-cara ekstrem (kekerasan, pengerusakan, terror). Narasi ekstrem biasanya dibuat dengan semenarik mungkin dengan mempertimbangkan unsur-unsur di dalamnya seperti narasi induk (kitab suci al-Qur’an, hadist, atau peristiwa yang memiliki nilai historis), tema utama, aktor-aktor utama, plot (setting tempat dan waktu klimaks konflik, resolusi konflik), dan retorika.  Adapun salah satu bentuk contoh narasi ekstremis antara lain:


kebanyakan majelis-majelis NU yang didirikan hanya membicarakan masalah khilafiyah dan memusuhi golongan Islam lain. padahal ada hal yang lebih penting dari pada harus terus mengurusi hal-hal yang justru menggoyahkan persatuan umat muslim. muslim NU mencapai 60% dari total penduduk Indonesia, namun muslim NU lah yang menjadi mayoritas penduduk miskin dan pendidikan rendah di Indonesia. Berbeda dengan Muhammadiyah yang menguasai dan pendidikan Indonesia, juga wahabi yang dilindungi oleh pemerintah Arab Saudi, sehingga sulit di serang oleh kaum sabilis. Kaum muslim NU akhirnya menjadi sasaran empuk kaum kristenisasi, sehingga tak dapat dipungkiri banyak muslim NU yang murtad dari agamanya. Merekalah penyebab megapa muslim Indonesia terus berkurang dari 95% menjadi 87% saat ini.

Dari contoh diatas pesan yang hendak disampaikan dari kandungan narasi tersebut adalah “cara mengatasi konflik, Negara harus melindungi Islam dari serangan Kristen”. Mendeskreditkan kelompok lain yang tidak sepaham dengan pemikirannya itulah yang disebut dengan pemahaman ekstrem. Narasi extremis merupakan bagian utama dan terkuat dalam propaganda ekstremis. Selain narasi, propaganda juga sering disampaikan melalui pesan pendek, seperti iklan, meme, puisi, dll.  Bentuk ini biasa disebut dengan “messaging” (penyampaian pesan ekstrem).

Propaganda-propaganda ekstremis saat ini sangat mudah sekali ditemukan di media sosial, seperti Facebook, Instagram, akun Twitter, WA, dan lain-lain. Jika penguna media sosial setiap hari terus dihadapkan dengan berita-berita atau bacaan-bacaan ekstrem yang berseliweran tak menutup kemungkinan akan terpengaruhi dan terjerumus ke dalam pemahaman-pemahaman tersebut seiring dengan berjalannya waktu. Maka disinilah peran pemerintah dalam satu sisi sangat dibutuhkan untuk mengatur dan menata lalu lintas penyebaran informasi di masyarakat.

Selain adanya aturan dari pemerintah, pengguna media sosial selaku konsumen juga harus bertindak kritis. Cara yang dapat dilakukan oleh pengguna media sosial dalam hal ini adalah meng-counter berita-berita ekstrem dengan membuat narasi tandingan atau membuat kontra narasi ekstremis, yang bertujuan menandingi narasi ekstremis sehingga audiens selaku pengguna media sosial menolak mendukung tujuan ekstremis. Tanpa ada kontra narasi audiens akan dibuat percaya pada argumen ekstremis.

Membuat narasi tandingan atau kontra narasi ekstremis harus mampu mengenali titik lemah argument ekstremis, sehingga akan mudah dipatahkan melalui argument lain berdasarkan pada fakta dan kesejarahan yang ada. Narasi induk yang dapat dipakai sebagai inspirasi dalam membuat kontra narasi ekstremis diantaranya perjanjian Hudaibiyah, Khutbatul Wada’ perumpamaan orang bersedekah dijalan Allah, negeri Saba, dan semua cerita yang bersumber dari al-Qur’an, hadist, dan sejarah.[6] Argumen-argumen yang dapat di gunakan sebagai bahan dasar dalam membuat kontra narasi ekstremis mengacu kepada hak-hak asasi manusia, seperti perlindungan terhadap anak dan isteri (keluarga), ukhwah Islamiyah, menolong kaum lemah dan korban  konflik, menjaga moralitas sosial, menegakkan keadilan dan kejujuran, kesalehan, perhatian dan harga diri.
  Adapun contoh aplikasi kontra narasi dalam meng-counter narasi ekstremis sebagai berikut:
Argumen narasi ekstremis, mengenali masalah atau kemalangan yang dijadikan concern dalam narasi ekstremis dan cara mengatasinya.
·         Kemiskinan dan keterpurukan umat Islam, kelicikan musuh Islam.
·         Konflik dan keretakan dalam umat Islam, konspirasi musuh Islam.
·         Korupsi merajalela, karena tidak menggunakan hukum Allah, sistem daulah Islamiyah dan khilafah.

 Argumen kontra narasi ekstremis dalam membelokan cara mengatasi masalah kemiskinan dan keterpurukan umat Islam, dikerangka ulang menjadi kemiskinan masyarakat umum, termasuk umat Islam perlu pemberdayaan ekonomi, kebijakan pemerataan ekonomi, sbb.
Konflik dan keretakan dalam umat Islam, diterangkan ulang menjadi konflik sosial politik. Perlu dialog, negosiasi, rekonsiliasi.

Kritis, bijak, cerdas, menebar kebaikan adalah merupakan syarat utama pengguna media sosial masa kini. Jangan mudah terprovokasi, terhasut, dan mudah membenarkan segala sesuatu apa yang didapat dari dunia internet tanpa melakukan crosscheck, terutama masalah konflik politik maupun keagamaan. Jadikan ke canggihan teknologi digital saat  ini sebagai ajang untuk mengembangkan potensi diri, mengasah kemampuan, menebar kebaikan, untuk menyambut masa depan yang lebih cemerlang. Generasi mile­nnial saat ini harus bijak dalam menggunakan media sosial, bijak dalam memilih berita, karena masa depan negara Indonesia untuk beberapa tahun ke depan ditentukan oleh kita  sebagai generasi milennial saat ini. 
SALAM DAMAI. (Siti Maghfiroh/ Nailil Fithriyyah)



[1]          Haidar Bagir, Islam Tuhan Islam Manusia, Bandung: Mizan Pustaka, 2017, Hlm. 35-36.
[2]    Haidar Bagir, Islam Tuhan Islam Manusia, Bandung: Pt Mizan Pustaka, 2017, Hlm. 39.
[3] Ali Usman, Kiai Mengaji Santri Acungkan Jari, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2012, Hlm. 125-127.
[4]    Amin Abdullah, Mencari Islam: Studi Islam Dengan Berbagai Pendekatan, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000, Hlm. 16.
[5]       Irfan Abu Bakar, disampaikan pada acara Preliminary Workshop: Penguatan Pesantren Dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis,  malang, 30 oktober-2 November 2017.
[6]       Irfan Abu Bakar


November 15, 2017

2

Islam dan Tradisi Tulis-Menulis: Sebuah Refleksi


Gencarnya Tim Nusa Media dalam mempromosikan blog resmi Pondok Pesantren Nurussalam-Krapyak ini harus diapresiasi tinggi oleh segenap keluarga besar Nurussalam di dalamnya maupun masyarakat secara umum. Disadari atau tidak, dengan diterbitkannya kembali (reborn), dan dipromosikan secara bombastis, blog resmi ini memantik santri-santri Nurussalam untuk berfikir, menganalisa dan menuliskannya. Atau kalau kita meminjam metode penelitian sejarah, sebelum menuliskan sebuah tulisan/karya, setidaknya ada empat tahap, yaitu heuristic (pengumpulan sumber/ bahan tulisan), verifikasi ( memilah dan memilih sumber yang dianggap layak, dengan menggunakan kritik tentunya, baik ekstern maupun intern), interpretasi, dan terakhir historiografi ( penulisan). Dengan ini semua, secara tidak langsung kegiatan ini membawa Nurussalam kepada posisi/lingkar intelektualitas ( pengembangan ilmu dan keilmuan), dan akhirnya kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari kecerdasan bersama, atau dalam bahasa pak Kuntowijoyo disebut sebagai “ collective intelligence”.
Tulisan dan tradisi tulis-menulis, sejatinya merupakan tradisi umat Islam sejak dulu. Menulis, seperti  yang dikatan oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitabnya al-Fatawa al-Haditsiyyah “ idz ma kutiba qarra wa ma hufidha farra”  apa yang kita tulis itu sifatnya tetap ( tidak mudah hilang sepanjang zaman), dan apa yang dihafal cepat hilang (ditelan masa). Hal ini senyatanya benar, karena ketika kita menulis, berarti kita memberi sumbangsih keilmuan baik bagi masa kita sendiri maupun masa yang akan datang, tetapi ketika keilmuan itu hanya tersimpan dalam memori (ingatan) saja, maka ia akan hilang pula bersama kematian seseorang tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim, bahwa rasulullah SAW bersabda “qayyidu al-ilma bi al kitabah” yang artinya kurang lebih “ ikatlah ilmu itu dengan tulisan /dengan cara ditulis”. Maka tak heran, ketika kita sekarang mengenal imam Syafi’i, imam Bukhori, imam Abu Hasan al-Asy’ari, dan imam al-Ghazali (yang secara berurutan mewakili khazanah keilmuan fiqh, hadits, kalam dan tasawwuf), bukan sebab kita berjumpa dan menyantri secara langsung kepada mereka, tetapi karena karya-karya  yang mereka tulis  berabad- abad lalu sampai dan dikaji oleh kita sampai saat ini. Dan sesungguhnya masih banyak lagi karya-karya ulama terdahulu, namun sayang, karya-karya mereka tidak sampai kepada kita, karena salah satunya disebabkan oleh sebuah serangan bangsa Mongol terhadap Baghdad di tahun 1258 M, menyebabkan karya-karya mereka tak sampai kepada kita.  

Tradisi Tulis- Menulis sebagai Poros  Peradaban Islam


Sejatinya, kalau kita runut dalam sejarah Islam paling awal, turunnya wahyu pertama surat al-‘Alaq ayat 1-5 pada tahun 610 M, mengisyaratkan secara jelas akan urgensitas menulis untuk membangun peradaban manusia, yang tersirat dalam ayatnya yang keempat yang berbunyi “ ‘allama al- insana bi al-qalam”, yang artinya “ Dialah Dzat yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam”  mengenai ayat ini imam Qatadah mengatakan “ al-qalam (pena) itu termasuk ni’mat yang diberikan oleh Allah, dan seandainya ia tidak ada (baca qolam /tradisi tulis-menulis) maka agama tidak akan berdiri tegak dan kehidupan tidak sejahtera (lihat Marah Labid Tafsir al-Nawawiy, karangan Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantany al-Jawy) . Dari apa yang dikatan imam Qatadah tersebut, kita dapat melihat betapa pentingnya peran tulisan bagi kehidupan manusia, bahkan ia memiliki dua matra/ dimensi , satu sisi untuk kebaikan agamanya (vertikal) dan sisi lain untuk kebaikan kelangsungan kehidupan manusia (horisontal).
Sejarah pun telah membuktikan kekuatan tulisan ini dalam mengubah kehidupan dan peradaban dunia. Dalam buku-buku sejarah Peradaban Islam,  banyak disebutkan bahwa zaman keemasan Islam (the Golden Age of Islam) terjadi pada masa Daulah Abbasiyyah paruh pertama (antara tahun 750 - 847 M) pertanyaannya yang muncul adalah apa yang terjadi selama rentan waktu tersebut? Setelah dilihat, ternyata selama rentan waktu itu, umat Islam sedang semangat-semangatnya dalam menggalakan pengembangan ilmu dan keilmuan, yang nantinya dikristalkan dalam bentuk penerjemahan–penerjemahan karya-karya dari Persia, Yunani, dan India dan lainnya ke dalam Bahasa Arab dengan Baitul Hikmah sebagai lembaga yang menaunginya. Sehingga muncul di dalamnya ulama-ulama dan cendekiawan-cendekiawan muslim dengan sumbangsih keilmuannya masing-masing yang terhimpun dalam karya-karya tulis mereka. Potret peradaban masa Abbasiyyah awal ini dapat pembaca lihat dalam buku “ Dhuha al- Islam, jilid III” karya Ahmad Amin yang merupakan rangkaian dari dua buku lainnya, yaitu Fajr al-Islam, dan Dhuhr al-Islam.
Namun perlu diketengahkan juga bahwa, pencapaian masa keemasan tersebut tidak lepas dari masa-masa sebelumnya sebagai peletak dasar, yaitu masa Nabi, Khulafa ar-Rasyidin, dan Daulah Umayyah, dan juga hal ini tidak menafikan peradaban setelahnya (pasca Abbasiyyah paruh pertama). Karena Peradaban setelahnya tetap ada namun tidak sementereng (baca: secemerlang) apa yang telah dicapai oleh Baghdad secara umum. Sebab dimana tulisan dan tradisi tulis-menulis itu tetap ada, bisa dikatakan bahwa peradaban itu tetap ada pula. 
Akhirnya kita pun dapat memahami bahwa tradisi menulis merupakan langkah awal dari terbangunya sebuah peradaban. Ketika kita menulis berarti kita telah meletakkan pondasi dasar akan sebuah bangunan peradaban tersebut. Dan seandainya peradaban itu telah ada, maka kita telah mewarnai peradaban tersebut, sehingga apa yang kita tulis merupakan bagian dari peradaban itu sendiri.
Selamat menulis!!!!!!!!!!!!!!

Penulis : Jamaluddin




Social Time

Facebook
Like Us
Google Plus
Follow Us
Instagram
Follow Us
Youtube
Subscribe Us

Subscribe to our newsletter

(Get fresh updates in your inbox. Unsubscribe at anytime)